Akibatnya, tumbuh generasi apatis yang meyakini bahwa politik hanyalah dunia kotor yang tidak dapat diubah.
Pandangan semacam ini sangat berbahaya karena menurunkan kualitas partisipasi politik yang rasional dan memperlemah legitimasi pemerintahan yang terbentuk melalui pemilu.
Faktor penyebab munculnya politik uang sangat kompleks dan saling terkait. Faktor ekonomi menjadi salah satu yang paling dominan.
Kemiskinan struktural yang masih melanda sebagian besar masyarakat Indonesia membuat rakyat mudah tergoda oleh imbalan materi.
Bagi warga miskin, uang lima puluh ribu rupiah atau satu paket sembako bisa menjadi penyambung hidup di tengah kondisi ekonomi sulit.
Dalam situasi seperti itu, iming-iming uang dari kandidat dianggap bukan sebagai pelanggaran, melainkan sebagai rezeki yang datang menjelang pemilu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa politik uang tidak dapat dipisahkan dari persoalan ketimpangan ekonomi dan rendahnya kesejahteraan sosial.
Semakin miskin masyarakat, semakin besar peluang praktik politik uang terjadi.

