“Inilah yang ingin kami perjelas. Jangan sampai masyarakat dirugikan karena informasi yang tidak jelas,” kata Kamrani.

Sebelum mendatangi Kantor ATR/BPN, masyarakat terlebih dahulu mendatangi Kantor Bupati Lingga.

Namun, warga mengaku kecewa lantaran tidak ada perwakilan pemerintah daerah yang menerima maupun memberikan penjelasan mengenai kelanjutan audiensi yang sebelumnya dijanjikan.

Kekecewaan juga disampaikan Arila Ah, salah seorang Ketua RT dari Dusun Desa Limbung yang turut hadir dalam rombongan masyarakat.

Menurutnya, apabila audiensi lanjutan tidak dapat dilaksanakan, pemerintah seharusnya memberikan pemberitahuan secara resmi kepada masyarakat.

“Kami sangat kecewa. Pada audiensi sebelumnya sudah jelas disampaikan bahwa pertemuan lanjutan akan dilakukan hari ini. Kalau memang ditunda atau dibatalkan, seharusnya ada pemberitahuan resmi,” ujarnya.

Ia mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kami datang baik-baik. Kami hanya ingin bertemu pimpinan daerah dan mendapatkan kejelasan. Terimalah masyarakat dengan baik-baik,” tambahnya.

ATR/BPN Minta Masyarakat Ajukan Permohonan Tertulis

Menanggapi tuntutan masyarakat terkait transparansi data HGU dan persoalan jual beli lahan plasma, Kasubbag Tata Usaha ATR/BPN Kabupaten Lingga, La Haring, menjelaskan bahwa kewenangan ATR/BPN terbatas pada urusan pertanahan dan penerbitan sertifikat.

Menurutnya, persoalan transaksi jual beli lahan bukan menjadi kewenangan langsung ATR/BPN.