Tidak tercatat dalam kebijakan, tidak diangkat dalam program, bahkan jarang disebut dalam pidato-pidato pejabat.
Pemprov Kepri, yang hari ini berdiri kokoh di atas pondasi perjuangan Huzrin Hood dan rekan-rekannya, seakan lupa bahwa kemewahan ruang kerja, fasilitas negara, dan kekuasaan birokrasi yang dinikmati hari ini, dulunya diperjuangkan dengan keringat dan penderitaan.
Apakah terlalu berat untuk sekadar memberi penghargaan yang layak? Atau memang sejarah hanya dianggap penting saat butuh legitimasi?
Hari Marwah bukan hanya tentang mengenang, tapi juga tentang menagih janji moral bahwa pejuang tak boleh dilupakan, dan sejarah tak boleh dipelintir.
Jika kita tidak bisa menghargai mereka yang berjuang, maka jangan heran bila generasi mendatang kehilangan semangat untuk membela negeri ini.

