Ironis. Ketika semangat otonomi daerah seharusnya memberi ruang bagi anak jati diri daerah untuk memimpin dan menentukan arah, kenyataannya justru marwah itu seperti dirampas secara perlahan.

Kepri bukan milik satu golongan, tapi marwahnya adalah warisan bersama yang seharusnya dijaga dengan keadilan dan keberpihakan.

Hari Marwah seharusnya menjadi waktu refleksi. Bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menilai apakah semangat perjuangan itu masih hidup dalam kebijakan dan struktur hari ini.

Apakah kita sudah benar-benar menghormati jasa para pendahulu, atau hanya memanfaatkan nama mereka untuk seremoni tahunan?

Sudah waktunya marwah Kepri dikembalikan ke pangkuan mereka yang berhak. Bukan untuk mengkotak-kotakkan, tapi untuk menegakkan keadilan bagi para pejuang yang selama ini diam, namun tetap setia mengabdi.

Salah satu sosok yang layak kita ingat hari ini adalah Huzrin Hood, tokoh sentral dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.

Huzrin Hood bukan hanya menggagas, tapi juga mengorbankan segalanya termasuk kenyamanan hidupnya sendiri demi berdirinya provinsi ini. Ironisnya, nama besar itu kini seolah terhapus dari ingatan resmi.