Oleh : Teddy Maembong (Ketua LSM Megat Sri Rama)
Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau bukan sekadar peringatan administratif berdirinya Provinsi Kepulauan Riau ini.
Hari Marwah merupakan momen sakral, lahir dari darah, keringat, dan air mata para pejuang yang mencita-citakan kemandirian dan identitas daerah.
Namun, di tengah gemuruh perayaan tiap tahunnya, ada kenyataan pahit yang sering luput dari sorotan banyak tokoh lokal, para pejuang marwah, justru terpinggirkan dari panggung pembangunan yang mereka lahirkan sendiri.
Mereka yang sejak awal memperjuangkan Kepri menjadi provinsi yang berdiskusi siang malam, menempuh jalan panjang dari pulau ke pulau, menyuarakan aspirasi masyarakat lokal ke pusat hari ini tak sedikit yang dilupakan.
Bahkan yang telah mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil, tidak mendapatkan tempat strategis dalam pemerintahan.
Mereka tetap berada di barisan belakang, sementara kursi-kursi penting justru diisi oleh pendatang yang tak pernah hadir dalam proses perjuangan.
Ironis. Ketika semangat otonomi daerah seharusnya memberi ruang bagi anak jati diri daerah untuk memimpin dan menentukan arah, kenyataannya justru marwah itu seperti dirampas secara perlahan.
Kepri bukan milik satu golongan, tapi marwahnya adalah warisan bersama yang seharusnya dijaga dengan keadilan dan keberpihakan.
Hari Marwah seharusnya menjadi waktu refleksi. Bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menilai apakah semangat perjuangan itu masih hidup dalam kebijakan dan struktur hari ini.
Apakah kita sudah benar-benar menghormati jasa para pendahulu, atau hanya memanfaatkan nama mereka untuk seremoni tahunan?
Sudah waktunya marwah Kepri dikembalikan ke pangkuan mereka yang berhak. Bukan untuk mengkotak-kotakkan, tapi untuk menegakkan keadilan bagi para pejuang yang selama ini diam, namun tetap setia mengabdi.
Salah satu sosok yang layak kita ingat hari ini adalah Huzrin Hood, tokoh sentral dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Huzrin Hood bukan hanya menggagas, tapi juga mengorbankan segalanya termasuk kenyamanan hidupnya sendiri demi berdirinya provinsi ini. Ironisnya, nama besar itu kini seolah terhapus dari ingatan resmi.
Tidak tercatat dalam kebijakan, tidak diangkat dalam program, bahkan jarang disebut dalam pidato-pidato pejabat.
Pemprov Kepri, yang hari ini berdiri kokoh di atas pondasi perjuangan Huzrin Hood dan rekan-rekannya, seakan lupa bahwa kemewahan ruang kerja, fasilitas negara, dan kekuasaan birokrasi yang dinikmati hari ini, dulunya diperjuangkan dengan keringat dan penderitaan.
Apakah terlalu berat untuk sekadar memberi penghargaan yang layak? Atau memang sejarah hanya dianggap penting saat butuh legitimasi?
Hari Marwah bukan hanya tentang mengenang, tapi juga tentang menagih janji moral bahwa pejuang tak boleh dilupakan, dan sejarah tak boleh dipelintir.
Jika kita tidak bisa menghargai mereka yang berjuang, maka jangan heran bila generasi mendatang kehilangan semangat untuk membela negeri ini.

