Aktivitas menangkap ikan dengan alat seperti kelong, bubu, dan jaring menjadi terganggu akibat dampak kapal tersebut.

Menurut Ruslan, gelombang tinggi yang terus terjadi menyebabkan air di sekitar kapal tongkang menjadi deras, menggerus batu bauksit dari kapal tersebut.

“Jika tongkang ini hancur, siapa yang akan bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan dampaknya pada masyarakat?,” tambahnya.

Ia mengaku telah melaporkan kejadian ini kepada pihak perusahaan pemilik kapal tongkang dan berharap evakuasi segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih besar.

“Kami ingin perusahaan bertindak cepat sebelum limbah bauksit mencemari seluruh wilayah perairan dan mata pencaharian nelayan terganggu sepenuhnya,” tegasnya.

Masyarakat setempat juga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan untuk menangani situasi ini, memastikan evakuasi kapal dilakukan dengan baik, serta menuntut perusahaan pemilik tongkang bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.