Menurutnya, banyak rekanan harus mencari pinjaman untuk menutupi biaya operasional, pembayaran material, hingga kewajiban kepada para pekerja.
“Kami datang untuk mencari kejelasan. Pekerjaan sudah selesai sejak tahun lalu, tetapi sampai hari ini belum ada kepastian pembayaran. Sementara kami terus menghadapi berbagai tagihan yang harus diselesaikan,” ujar Frans.
Ia mengungkapkan, sebagian kontraktor saat ini mengalami tekanan finansial karena harus menanggung beban utang yang digunakan sebagai modal pelaksanaan proyek.
“Banyak yang meminjam ke bank, keluarga, maupun rekan bisnis untuk menyelesaikan pekerjaan. Sekarang kami yang harus menanggung konsekuensinya karena pembayaran belum juga dilakukan,” katanya.
Kekecewaan memuncak juga memunculkan reaksi keras dari sejumlah kontraktor. Salah seorang rekanan enggan disebutkan namanya mengaku geram dengan lambannya penyelesaian persoalan tersebut.
Meski demikian, para kontraktor menyatakan masih mengedepankan jalur komunikasi dan berharap Pemerintah Kabupaten Lingga segera memberikan penjelasan resmi terkait status pembayaran kegiatan yang tertunggak.

