Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan para nabi sebelumnya, agar Nabi Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa mereka pun mengalami masa-masa sulit
Sehingga Nabi Muhammad SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan dakwah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.
Baca Juga: Pemko Tanjungpinang Menerima Dukungan Pembiayaan 50 persen Untuk Pembangunan Infrastruktur Daerah
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.
Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.
Baca Juga: Apakah ada makanan yang bisa mencegah rambut beruban? Simak Ulasannya
Dari ajaran langit tersebut, terdapat nilai-nilai signifikan bagi sebuah kepemimpinan. Pertama, sebagaimana tercermin dari ayat yang mengemukakan peristiwa Isra Mi’raj, yang dimulai dengan tasbih, juga peristiwa pembersihan dada Nabi dengan air zamzam ditambah dengan wudhu.
Maka dalam sebuah kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga integritas moral. Dalam konteks keindonesiaan, hal ini dapat diwujudkan dengan revolusi mental yang dimulai dari tingkat aparaturnya.
Baca Juga: Berat badan yang meningkat saat menstruasi apakah hal biasa? Berikut Penjelasannya
Kedua, selain integritas moral, yang tidak kalah pentingnya adalah belajar kepada sejarah.

