Religi

Memahami Makna Yang Tersirat Dalam Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

52
×

Memahami Makna Yang Tersirat Dalam Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Sebarkan artikel ini
Situasi pada saat Isra Miraj serta menjelang Bulan Ramadhan tiba

HARIANMEMOKEPRI.COM — Isra Mi’raj adalah dua perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam.

Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Sebab, pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. 

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Baca Juga: Ramalan Zodiak Cinta Aries 17 Februari 2023, Penasaran tapi jangan terlalu asertif

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah.

Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M.

Baca Juga: Kunjungan Ke Kabupaten Natuna, Ansar Ahmad Berikan Motivasi Siswa SMAN 2 Bunguran Timur

Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 10 kenabian, dan inilah yang populer. 

Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah ra meninggal pada bulan Ramadhan tahun ke 10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab.

BACA JUGA  Sholat Isya Serta Tarawih Berjamaah Di Masjid Al Uswah, Wakil Presiden Ma'ruf Amin Berikan Tausyiah Agama

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kabupaten Karimun tanggal 17 Februari 2023

Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan wisata biasa bagi Rasul. Peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah sekaligus titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. 

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kabupaten Anambas tanggal 17 Februari 2023

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah.

Maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju sang pencipta . Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani. Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kota Batam tanggal 17 Februari 2023

Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW berjumpa dengan Allah SWT.

BACA JUGA  Berikut Ini Penjelasan Peringatan Haul Serta Bagaimana Hukum Melaksanakannya? Simak Selengkapnya

Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kabupaten Bintan tanggal 17 Februari 2023

Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja. Allah SWT pun berfirman, Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh. 

Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa.

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kabupaten Lingga 17 Februari 2023

Lalu dalam Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini, Nabi mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu. 

Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra Mi’raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasulullah SAW diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya. 

BACA JUGA  Ansor Banser Tanjungpinang dan Group Hadroh AL-Mujahidin Meriahkan Peringatan Isra' Mi'raj 1439 H

Baca Juga: Jadwal Waktu Sholat Kota Tanjungpinang 17 Februari 2023

Pertama, Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS.

Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina.

Baca Juga: 7 Perilaku Tidak Disukai Masyarakat Melayu Kabupaten Lingga, Apa Saja Itu? Simak Selengkapnya

Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan golongan Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya. 

Kedua, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya menyaksikan langsung.

Baca Juga: Netflix Tayangkan Dokumentasi MH370 Maret Ini, Setelah 9 Tahun Hilangnya Pesawat

Berbeda dengan kata Syahida, yang berarti menyaksikan tapi tidak mesti secara langsung. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *