Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni jangan sampai ia berlagak atau bersikap sok pintar atau merasa paling tahu terhadap semua urusan (tanatthu).
Terhadap yang dipimpin jangan sampai mempersulit (tasydid), dan kebijakannya tidak melewati batas kemampuan yang ada, baik bagi yang dipimpin atau pun sang pemimpin itu sendiri.
Keempat, hendaknya kebijakan seorang pemimpin membumi kepada hati dan rakyat yang dipimpinnya. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, hal itu telah diteladankan Nabi saw, ketika beliau sudi kembali ke bumi setelah bertemu Allah.
Padahal pertemuan dengan Allah-lah cita-cita dan tujuan umat manusia, terlebih kaum sufi. Kembalinya Rasulullah ini dimaksudkan untuk menyelamatkan nasib umat manusia (rahmatan lil alamin). Maka dalam konteks ini, kebijakan yang membumi, mutlak diperlukan.

