Opini oleh : Ucok Fatumonah Harahap
Masih dalam gema peringatan Hari Lahir ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia pada 17 April, kader PMII Tanjungpinang–Bintan tidak larut dalam euforia semata.
Justru, momentum ini menjadi panggilan perlawanan untuk membongkar kebusukan yang selama ini disembunyikan dalam tubuh organisasi.
Kita tidak perlu melihat keluar untuk mencari musuh. Musuh terbesar hari ini justru ada di dalam, ketika struktur yang seharusnya menghidupkan gerakan, malah menjadi aktor yang mematikan denyut kaderisasi.
Pengurus Koordinator Cabang PMII Kepulauan Riau hari ini tidak lebih dari simbol kekuasaan kosong.
Alih-alih menjalankan fungsi koordinasi dan distribusi peran, PKC justru sibuk mengklaim gerakan atas nama kader se-Kepri tanpa kontribusi nyata.
Ini bukan sekadar kelalaian, ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap ruh perjuangan PMII.
Lebih ironis lagi, ketika cabang-cabang berjuang dengan segala keterbatasan, PKC justru mempertontonkan gerakan yang minim substansi.
Mereka bisa berziarah kepada yang telah mati, tetapi dalam saat yang sama, mereka “mematikan” cabang-cabang yang masih hidup. Ini bukan lagi soal salah arah , ini adalah kemunduran moral organisasi.

