Bagi masyarakat, ini bukan hanya soal gaji atau bonus yang besar. Tapi ini soal kepekaan sosial.
Di saat rakyat sedang susah, para pemimpinnya justru terlihat menuntut lebih banyak.
Bahkan dalam beberapa laporan, tidak sedikit anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang jarang turun ke daerah pemilihannya, tidak transparan dalam menyampaikan laporan kerja, dan terlihat lebih aktif saat menjelang pemilu saja.
Inilah yang membuat masyarakat merasa kecewa. Mereka bertanya-tanya, apakah negara ini benar-benar dijalankan untuk kepentingan semua orang, atau hanya untuk sekelompok orang elit?
Ketika keadilan sosial bukan menjadi fondasi dasar bagi warga negara, tapi hanya menjadi slogan, dan perilaku wakil rakyat menunjukkan ketimpangan, maka rasa percaya masyarakat terhadap institusi negara pun perlahan terkikis.
Kondisi ini juga menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin besar antara 2 bagian kehidupan, yaitu pejabat publik dan kehidupan rakyat biasa. Di dalam media sosial, sering beredar foto-foto anggota dewan yang sedang menikmati kehidupan yang mewah, makan di restoran mahal, memakai mobil dinas dengan harga miliaran rupiah, bahkan berlibur ke luar negeri saat reses. Semua itu tentu menambah kemarahan rakyat, yang setiap hari harus berjuang demi sesuap nasi.

