Wiji menyadari, kemerdekaan tanpa kesejahteraan hanyalah upacara tanpa isi. Maka puisinya selalu menggugat: siapa yang benar-benar menikmati kemerdekaan?

Aktivis yang Hilang

Seiring waktu, Wiji tak hanya jadi penyair. Ia turun langsung mendampingi buruh, petani, dan warga miskin kota. Ia ikut menyusun selebaran, memimpin demonstrasi, dan menghadapi represi aparat.

Orde Baru mencatat namanya sebagai ancaman. Ia diawasi, ditangkap, dipukul, lalu dilepaskan lagi. Namun Wiji tak pernah berhenti. Dalam banyak aksinya, ia selalu berkata, “Hanya ada satu kata: lawan!”

Pada 1998, menjelang tumbangnya rezim, Wiji menghilang. Istrinya, Sipon, bersama anak-anaknya, Fitri dan Fajar, terus mencari.

Namun hingga kini, tubuh Wiji tak pernah ditemukan. Ia menjadi salah satu dari orang hilang 1998—korban kekerasan negara yang tak pernah kembali.

Relevansi di Usia Kemerdekaan ke-80

Kini, 2025. Indonesia merayakan usia 80 tahun kemerdekaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 menunjukkan:

Masih ada 23,85 juta penduduk miskin, dengan garis kemiskinan hanya sekitar Rp15 ribu per orang per hari untuk kebutuhan pangan.