Meski sempat sekolah di SMKI jurusan tari, ia terpaksa berhenti pada 1982 karena tak sanggup membayar biaya. Ia lalu bekerja apa saja: jualan koran, calo karcis bioskop, sampai tukang pelitur di toko mebel. Tapi satu hal tak pernah ia lepaskan: menulis puisi.

Dari kampung ke kampung, Wiji membacakan puisinya. Bukan di gedung mewah atau panggung besar, melainkan di depan warga, buruh, petani, tukang becak, dan pedagang kecil. Ia ingin kata-katanya hidup di tengah rakyat, bukan di ruang elite.

Puisi yang Menjadi Peluru

Puisinya bukan romantika kosong. Judul-judul seperti “Aku Ingin Menjadi Peluru atau Peringatan” mencerminkan perlawanan keras terhadap ketidakadilan. Baginya, puisi adalah senjata, kata-kata adalah peluru.

Ketika ia melantunkan “Kemerdekaan itu nasi. Dimakan jadi tai”, ia bukan sedang bermain kata. Ia sedang menampar wajah kekuasaan. Bagi rakyat seperti keluarganya, kemerdekaan yang diwarisi dari proklamasi 1945 hanya berhenti pada simbol sementara perut tetap lapar, tanah tetap dirampas, suara tetap dibungkam.