Kemiskinan ekstrem memang turun jadi 0,85%, tapi tetap berarti ada lebih dari 2,3 juta orang yang hidup di bawah batas paling dasar.

Di perkotaan, angka kemiskinan justru naik menjadi 6,73%.

Di sisi lain, kasus tanah seperti di Dago Elos, Bandung, atau perampasan lahan adat di Kalimantan, membuktikan bahwa penjajahan belum sepenuhnya hilang hanya berganti rupa.

Apakah ini wajah kemerdekaan yang dibayangkan oleh para pejuang 1945? Atau justru cerminan kata Wiji: kemerdekaan hanyalah nasi yang sudah jadi tai?

Menghidupkan Kembali Wiji

Wiji memang hilang, tapi ia tidak mati. Puisinya dibaca di kampus, dinyanyikan oleh anaknya Fajar Merah, diteriakkan di jalan oleh para aktivis, dan diingat oleh rakyat kecil yang terus berjuang.

Bagi mereka, Wiji bukan sekadar penyair ia adalah simbol keberanian untuk berkata jujur, meski taruhannya adalah nyawa.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati tidak bisa hanya diucapkan, tapi harus dirasakan dalam perut kenyang, tanah yang aman, dan suara rakyat yang bebas.