Warisan yang Tak Pernah Hilang

Hari ini, di usia kemerdekaan ke-80, kita masih berdiri di persimpangan: merayakan bendera, atau menegakkan arti?

Jika kita hanya merdeka dalam seremoni, maka benar kata Wiji: “kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai.”

Tetapi jika kita menjadikan kemerdekaan sebagai perjuangan bersama untuk keadilan sosial, maka nasi itu bisa menjadi tenaga, bukan sekadar ampas.

Tak hanya itu, sebagai rakyat di bangsa yang besar kebebasan berpendapat masih saja menjadi kesulitan yang didapatkan. Hingga saat ini, arogansi aparat yang kerap kali dialami para aktivis masih terjadi di era modern.

Mungkin Wiji tak hadir di lapangan upacara, tapi suaranya ada di setiap hati yang berani bertanya: Merdeka untuk siapa?

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Merdeka bukan sekadar kata merdeka adalah keberanian untuk terus melawan ketidakadilan.