“Kami ingin relawan tidak hanya paham fardhu kifayah secara umum, tetapi juga sesuai standar internasional, termasuk Singapura, sehingga siap dalam situasi apapun,” ujar Ery.
Abdul Rahman Ibrahim sendiri menyambut baik semangat para peserta yang begitu aktif selama pelatihan.
Ia menyampaikan bahwa perbedaan teknis dalam fardhu kifayah antarnegara seharusnya tidak menjadi hambatan, justru bisa memperkaya pengetahuan dan keterampilan para relawan.
Senada dengan itu, pengurus YSAI, Eko Istiyanto, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini, terutama MFS Singapura yang menjadi mitra utama.
Eko menegaskan komitmen YSAI untuk terus mengembangkan kegiatan sosial dan keagamaan dalam bingkai kerja kolaboratif.
“Kami membawa semangat Bergerak, Bermanfaat, Berpahala dalam setiap program yang kami jalankan,” ujarnya.
Melihat besarnya antusiasme, YSAI berencana menggelar pelatihan serupa secara rutin di berbagai lokasi lain di Kepulauan Riau.
Sejumlah komunitas dan majelis taklim juga disebut telah menyampaikan ketertarikan untuk mengikuti pelatihan berikutnya.

