Suara deburan ombak di Pantai Sadranan pagi itu mengiringi langkah Aris yang berjalan menyusuri pasir sambil memeluk erat kotak kayu berisi rangkaian kabel sederhana buatan tangannya sendiri.

Lelaki muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas tersebut tidak pernah membayangkan bahwa eksperimen fisika sederhana yang ia kerjakan di garasi rumah gurunya akan mengubah cara pandang seluruh desa terhadap potensi air laut.

Di balik ketekunan Aris dalam merakit alat pemurni air asin menjadi air siap minum itu, ada sosok Herman, seorang guru fisika yang telah mengabdi selama belasan tahun dengan fasilitas laboratorium seadanya.

Kondisi geografis desa pesisir yang kering dan berbatu kapur membuat ketersediaan air bersih menjadi barang langka yang selalu diperjuangkan oleh masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu.

Tantangan alam yang ekstrem tersebut justru memantik rasa kepedulian Herman untuk merancang kurikulum belajar yang tidak hanya terpaku pada rumus-rumus kaku di dalam buku teks pelajaran fisika cetakan lama.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Ruang Inovasi

Herman percaya bahwa keterbatasan peralatan di sekolah negeri pesisir Gunungkidul tidak boleh memadamkan rasa ingin tahu murid-muridnya yang hidup berdampingan langsung dengan persoalan kekeringan saban musim kemarau.

Setiap sore setelah jam pelajaran usai, meja makan di rumah kontrakan Herman berubah fungsi menjadi meja laboratorium tempat ia dan Aris mendiskusikan berbagai hukum fisika dasar yang dapat diterapkan langsung untuk menyelesaikan masalah warga sekitar.