Ketika gemerlap lampu sorot ibu kota kerap menyilaukan mata para pelaku industri kreatif, seorang sutradara muda justru memilih melangkah keluar demi menemukan kembali akar cita-cita keseniannya.
Keputusan berani tersebut membawanya menyusuri jalanan berdebu di kawasan pedalaman Jawa Barat bersama sekelompok anak muda yang membawa proyektor bertenaga surya serta layar tancap ramah lingkungan.
Pria berusia tiga puluh empat tahun itu membulatkan tekad untuk meruntuhkan tembok tebal yang selama ini memisahkan tontonan berkualitas dari masyarakat pelosok yang jarang tersentuh bioskop komersial.
Inisiatif independen yang ia rintis sejak tiga tahun lalu kini telah berkembang menjadi gerakan kebudayaan masif dengan merangkul puluhan komunitas lokal di berbagai pelosok wilayah Nusantara.
Perjalanan penuh tantangan ini membuktikan bahwa karya seni pertunjukan tidak selalu harus bermuara pada gedung megah berpendingin udara demi mendapatkan apresiasi yang jujur serta mendalam dari penonton.
Langkah Awal Membuka Ruang Dialog
Gagasan segar tersebut berawal dari keprihatinannya saat menyaksikan ribuan anak-anak di pedesaan tidak pernah menikmati pengalaman menonton film bersama di atas layar lebar yang menggelegar.
Ia kemudian merancang sistem bioskop keliling yang memanfaatkan panel surya lipat sehingga pertunjukan film dapat terus berlangsung tanpa membebani pasokan listrik desa yang sering kali belum stabil.
Antusiasme warga desa terpancar jelas ketika ratusan orang dari berbagai generasi berkumpul di lapangan terbuka setiap akhir pekan untuk menikmati tayangan dokumenter maupun karya fiksi lokal.

