Kekurangan oksigen pada area ketinggian di atas dua ribu meter di atas permukaan laut turut memengaruhi cara saraf pusat memproses sinyal suara yang masuk dari lingkungan sekitar.
Para ahli saraf menjelaskan bahwa saat manusia berada dalam kondisi stres fisik, otak cenderung mencari pola familiar dari bunyi acak yang ditangkap oleh kedua telinga kita.
Bunyi gesekan ranting kering, gemericik air melintasi bebatuan, serta siulan angin malam dapat berpadu membentuk nada komposit yang terdengar persis seperti alunan musik tradisional atau gumaman warga.
Atmosfer gunung yang dipenuhi kabut tebal dan minim penerangan makin memperkuat imajinasi kolektif para pendaki yang sudah terpapar cerita misteri lokal sebelum melakukan perjalanan.
Jejak Cerita Rakyat dan Kearifan Lokal
Masyarakat adat yang bermukim di lereng gunung menganggap suara-suara aneh tersebut sebagai bentuk sapaan dari leluhur yang menjaga kelestarian ekosistem alam liar sekitar pegunungan.
Penjelajah modern yang menghormati tradisi setempat biasanya memilih untuk berdiam diri dan tidak mengucapkan kata-kata kasar ketika mendengar bunyi samar yang membingungkan pikiran tersebut.

