Banyak warga kota besar di Indonesia pernah merasakan sensasi bulu kuduk berdiri secara mendadak saat melangkahkan kaki memasuki ruangan tua berarsitektur era kolonial Belanda yang sunyi dan lembap.
Fenomena mistis yang kerap dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus tersebut ternyata menyimpan penjelasan ilmiah yang sangat rasional melalui sudut pandang fisika bangunan dan neurobiologi modern saat ini.
Para peneliti fisika akustik internasional telah menemukan bahwa vibrasi frekuensi sangat rendah di bawah dua puluh hertz mampu menggetarkan bola mata manusia dan memicu rasa cemas tanpa wujud fisik.
Gelombang bersuara amat pelan yang dikenal sebagai infrasound ini biasanya dihasilkan oleh dorongan angin malam melalui celah ventilasi sempit atau getaran mesin pendingin udara tua yang berisik dan bergetar.
Ketika tubuh manusia terpapar gelombang infrasound pada frekuensi tepat sembilan belas hertz, sistem saraf pusat akan merespons getaran tersebut sebagai sinyal bahaya yang memicu reaksi panik secara spontan.
Resonansi alami tersebut secara tidak sengaja membuat lensa mata bergetar sangat halus sehingga otak menciptakan ilusi bayangan samar-samar pada sudut penglihatan tepi yang tampak seperti pergerakan makhluk astral.
Mekanisme Otak Menciptakan Ilusi Gaib
Sistem saraf manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan alami yang kuat untuk selalu mencari pola visual yang mengenali bentuk wajah atau figur tubuh manusia di dalam kegelapan malam yang pekat.
Proses psikologis unik yang dikenal dengan istilah pareidolia ini memicu bagian otak amygdala untuk melepaskan hormon adrenalin secara cepat ketika kita berada di tempat asing yang terasa mencekam dan sunyi.

