Di tengah hiruk-pikuk kawasan bisnis Jakarta yang kerap menguras energi mental, seorang mantan manajer keuangan berusia tiga puluh lima tahun mengambil keputusan nekat untuk meninggalkan gaji belasan juta demi memeluk ketenangan di lereng Gunung Kawi.
Keputusan drastis Rania Indah tersebut berawal dari rasa jenuh yang mendalam terhadap rutinitas perkotaan serta keinginan kuat untuk menciptakan keberdampakan sosial yang nyata bagi masyarakat pedesaan di wilayah Jawa Timur.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Desa Wonosari pada awal tahun dua ribu dua puluh empat, perempuan lulusan Universitas Gadjah Mada ini menyaksikan berkarung-karung kulit kopi sisa panen yang membusuk begitu saja tanpa nilai ekonomis.
Para petani setempat selama puluhan tahun menganggap limbah beraroma khas tersebut sebagai masalah lingkungan yang hanya menumpuk di pinggir perkebunan dan berpotensi mencemari aliran sungai saat musim penghujan tiba.
Melihat potensi terselubung di balik tumpukan limbah organik tersebut, Rania mulai melakukan berbagai eksperimen mandiri di dapur sewaan kecilnya dengan menggunakan peralatan sederhana untuk mengolah limbah kulit kopi menjadi bahan kerajinan bernilai tinggi.

