Ansar juga menyoroti pentingnya penataan kawasan Gurindam 12 hingga Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), termasuk rencana menghadirkan kuliner khas sebagai magnet wisata malam.
“Kalau sampai ujung Gedung LAM sudah tertata bagus, saya kira bisa menjadi tempat orang berkumpul. Pedagang tidak dibenarkan berdagang sembarangan di situ karena itu kawasan yang harus kita jaga,” tegasnya.
Ia menegaskan fokus pembangunan di Tanjungpinang dilakukan karena kota ini merupakan ibu kota Provinsi Kepri.
Ansar mengaku tidak ingin Tanjungpinang justru menjadi kota paling sepi dibandingkan daerah lain.
“Maka harus ada daya tarik segera. Sebenarnya kita masih harus menyelesaikan kawasan pasar, terutama Pelantar 1 dan 2. Tapi kita lihat dulu kemampuan anggaran, kalau bisa bertahap kita lanjutkan,” katanya.
Terkait infrastruktur di Pulau Penyengat, Ansar mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan Dirjen Cipta Karya untuk meminta percepatan penyelesaian jalan sepanjang 1,8 kilometer yang belum rampung.
“Mudah-mudahan tahun ini tersedia anggaran. Kita minta kemarin agar fokus menyelesaikan jalan di Pulau Penyengat yang belum sekitar 1,8 km lagi. Untuk bahu jalan di Monumen Bahasa serta pematangan lahan, di perubahan anggaran ini akan kita siapkan,” pungkasnya.

