“Kami kalau makan harus buru-buru, takut debu sudah beterbangan. Kalau terlambat sedikit saja, debu sudah menempel di makanan,” keluhnya.

Ia juga menyoroti aktivitas para pekerja yang kerap berlangsung hingga malam hari, bahkan saat waktu salat Magrib.

Hal ini, menurutnya, semakin menambah ketidaknyamanan warga sekitar.

“Kalau sudah Magrib, harusnya aktivitas dihentikan sejenak untuk menghormati orang yang beribadah. Ini tidak, mereka tetap bekerja, suara bisingnya sangat mengganggu,”

“Untuk mengurangi debu masuk rumah, kami sampai tutup lubang-lubang rumah pakai karung beras, tapi tetap saja debu masuk,” katanya.

Edi mengaku sudah dua kali menyampaikan keluhannya kepada Kepala Desa Bukit Padi agar mencari solusi, namun hingga kini belum ada tindakan tegas.

“Saya sudah dua kali jumpa pak Kades, minta tolong panggil kontraktor, cari jalan keluar. Tapi sampai sekarang saya nggak tahu apakah mereka sudah dipanggil atau tidak,” ungkapnya.

Karena keluhannya tak kunjung diindahkan, Edi kini mendesak agar Pemerintah Desa dan Kecamatan segera bertindak, memindahkan gudang material tersebut ke lokasi yang jauh dari permukiman warga.

“Saya sampai berpikir, apa saya yang harus pindah rumah untuk menghindari debu ini? Harusnya mereka yang mengerti kondisi kami,”

“Sekarang saya sudah capek, saya minta gudang segera dipindahkan dan jangan ada lagi aktivitas bongkar muat material di situ,” tegasnya.

Edi berharap, Pemerintah Desa, Kecamatan, maupun pihak terkait segera turun tangan agar permasalahan ini tidak terus berlarut dan mengganggu kenyamanan masyarakat.