Di tengah fenomena perubahan iklim yang kian terasa menekan, seorang pemuka agama di pelosok Sukabumi memilih merawat bumi sebagai bentuk ibadah tertinggi dalam kesehariannya.

Kiai Haji Ahmad Badawi tidak hanya berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan ceramah, tetapi juga turun langsung ke ladang bersama puluhan santri setiap pagi.

Langkah nyata ini bermula ketika kekeringan parah melanda wilayah tempat tinggalnya sepuluh tahun lalu, mengakibatkan warga kesulitan mendapatkan air bersih serta menggagalkan panen.

Keprihatinan mendalam tersebut memicu kesadaran sang kiai bahwa ajaran spiritual tidak boleh berhenti pada lembaran kitab suci tanpa menyentuh akar permasalahan masyarakat setempat.

Beliau kemudian memprakarsai gerakan penghijauan desa dengan memanfaatkan lahan pesantren yang dahulunya sangat tandus menjadi kawasan hutan konservasi berbasis partisipasi aktif seluruh komunitas lokal.

Menyemaikan Benih Harapan

Proses mengubah tanah berbatuan yang gersang menjadi area hijau produktif tentu membutuhkan kesabaran ekstra serta strategi pengelolaan sumber daya air yang sangat terencana.

Bersama para santri dan warga sekitar, beliau mempelajari teknik pembuatan biopori serta penampungan air hujan guna menjaga kelembapan tanah sepanjang musim kemarau panjang.

Keberhasilan memanen hasil perkebunan organik pertama menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap alam mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi kesejahteraan warga pedesaan.

Banyak pemuda desa yang tadinya memilih merantau ke kota besar kini memutuskan kembali untuk mengelola unit usaha tani produktif besutan sang tokoh agama.