Pernahkah Anda melangkahkan kaki ke dalam celah tebing batu kapur yang menjulang tinggi lalu mendadak mendengar suara bisikan samar yang seolah memanggil nama Anda secara jernih dari balik pepohonan rindang?
Lembaran sejarah kawasan geologi berusia jutaan tahun di Sumatera Barat menyimpan teka-teki mengenai pemantulan gelombang suara berfrekuensi rendah yang kerap memicu sensasi merinding bagi para penjelajah alam saat senja melintas.
Karakteristik tebing granit tegak lurus yang mengapit celah sempit menciptakan sebuah ruang resonansi alami berkemampuan memantulkan serta membiaskan getaran suara manusia hingga jarak yang melebihi batas pendengaran normal.
Sejumlah warga lokal meyakini bahwa fenomena auditori tersebut berasal dari entitas tak kasat mata yang menjaga keasrian hutan tropis basah di sepanjang koridor pegunungan pedalaman.
Para ahli akustik modern justru menemukan bahwa tiupan angin kencang yang menabrak celah batuan sempit sanggup memproduksi gelombang infrasonik yang tidak terdengar tetapi sanggup memicu kecemasan mendalam pada otak manusia.

