HARIANMEMOKEPRI.COM — Pulau Penyengat merupakan destinasi wisata religi yang berada di Kota Tanjungpinang Ibukota Provinsi Kepulauan Riau dengan memiliki jejak sejarah Kerajaan dan Kesultanan Melayu yang dilestarikan hingga kini.

Pulau Penyengat sendiri dengan memiliki luas sekitar 2×1 Km berhadapan langsung dengan Kota Tanjungpinang bahkan masih memiliki peninggalan benda cagar budaya yang erat dengan kaitannya perjalanan sejarah Kerajaan Riau – Johor – Pahang – Lingga. 

Adapun bukti jejak sejarah tersebut, dapat dilihat ketika mengunjungi langsung beberapa destinasi wisata religi yang ada di Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang. 

Baca Juga: Salah Satu Korban Kapal SB Evelyn Calisca 01 Dikebumikan Serta Dikawal Satlantas Polresta Tanjungpinang

1. Masjid Raya Sultan Riau Penyengat

Di Pulau Penyengat terdapat Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Masjid tersebut didirikan pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman. 

Bangunan utama Masjid Raya Sultan Riau Penyengat itu berukuran 18×20 meter ditopang oleh empat buah tiang beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan. 

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat berwarna kuning, dan terdapat 13 kubah berbentuk seperti bawang, jumlah keseluruhan menara dan kubah sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat sholat fardhu lima waktu sehari semalam. 

Baca Juga: Menggunakan Helikopter, Kapolda Riau Bersama Danrem 031/Wirabima Kunjungi Inhil Untuk Pastikan Penanganan SAR

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat masih berdiri kokoh hingga saat ini, jika anda mengunjungi Pulau Penyengat, tak jauh dari dermaga, anda akan melihat jelas megahnya Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. 

Dalam Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, anda akan melihat Al-Qur’an dengan tulisan tangan yang terpajang di tengah masjid. Di bagian kiri dan kanan halaman depan Masjid terdapat rumah sotoh yang dahulunya digunakan sebagai tempat belajar ilmu agama. Di luar Masjid terdapat balai atau pendopo untuk pengunjung beristirahat. 

Menurut Sejarahwan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri, Masjid Raya Sultan Riau Penyengat adalah Masjid tertua di Kepri yang sudah dibangun sejak 1832 oleh Raja Abdurrahman. Namun sebelumnya, pada 1803 ketika Pulau Penyengat dibuka untuk Engku Puteri Raja Hamidah sudah ada bangunan Masjid yang terbuat dari kayu. 

Baca Juga: Tragedi Kapal SB Evelyn Calisca 01, Kapolres Inhil AKBP Norhayat Berharap Seluruh Korban Bisa Ditemukan

“Masjid Pulau Penyengat inilah masjid tertua di Kepri yang sampai saat ini masih bisa kita lihat bentuk fisiknya,” ucap Aswandi. 

2. Komplek Makam Engku Puteri Raja Hamidah

Selain Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, kurang lengkap rasanya jika tidak berziarah ke komplek Makam Engku Puteri Raja Hamidah.

Engku Puteri Raja Hamidah adalah Permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah, Sultan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang yang memerintah antara tahun 1784-1806.

Baca Juga: Jumat Curhat Pertama Usai Idulfitri 1444 H, Polres Bintan Terima Apresiasi Dari Masyarakat Yang Mudik

Pulau Penyengat dibangun menjadi sebuah negeri oleh Sultan Mahmud Riayat Syah untuk dianugerahkan kepada Raja Hamidah sebagai mahar atau emas kawin tatkala Sultan Mahmud Riayat Syah menikahi Raja Hamidah. Sejak perkawinan itu Raja Hamidah bergelar Engku Puteri. 

Sosok Engku Puteri disebut-sebut juga tokoh budaya pikir dikalangan perempuan Melayu zamannya, Engku Puteri mewariskan pikiran-pikiran yang besar dan kreatif yang masih bermanfaat dan relevan hingga sekarang ini. 

Engku Putri termasuk wanita yang sangat berpengaruh, terutama di bidang adat istiadat, di dalam hal lain yang menunjukkan kedudukan yang prima Engku Puteri dalam kerajaan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang yaitu sebagai pemegang Regalia (alat-alat kebesaran kerajaan). 

Baca Juga: Jumat Curhat Pertama Usai Idulfitri 1444 H, Polres Bintan Terima Apresiasi Dari Masyarakat Yang Mudik

Pada komplek Makam Engku Puteri Raja Hamidah ini juga terdapat makam Pahlawan Nasional, Raja Ali Haji. Beliau adalah anak dari Raja Ahmad Bin Raja Haji Fisabilillah, dengan isterinya Encik Hamidah Binti Panglima Malik Selangor. 

Raja Ali Haji banyak mewariskan kitab-kitab seperti diantaranya Tuhfat Al-Nafis, silsilah Melayu dan Bugis, Gurindam XII, Syair Abdul Muluk, kitab pengetahuan bahasa, Tsamaratul Muhimmah, dan beberapa karya lainnya. 

Dari karya-karya itu Raja Ali Haji diingat sebagai tokoh penting di bidang sejarah, sastra, dan agama Islam. Raja Ali Haji merupakan anak pribumi pertama yang membuat Kamus Bahasa Melayu dan kamus ini juga merupakan dasar Bahasa Indonesia. 

Baca Juga: Akibat Jalan Licin Pengendara Sepeda Motor Terjatuh Ke Laut Saat Memasuki Kapal Roro di Tanjung Uban

Raja Ali Haji diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia pada 10 November 2004.

3. Makam Pahlawan Nasional, Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV (1777-1784)

Raja Haji Fisabilillah lahir di Hulu Sungai Riau (kota lama) pada tahun 1717. Beliau adalah putera Daeng Celak, Yang Dipertuan Muda II dengan Tengku Mandak. 

Baca Juga: Akibat Jalan Licin Pengendara Sepeda Motor Terjatuh Ke Laut Saat Memasuki Kapal Roro di Tanjung Uban

Setelah Ayahandanya wafat. Raja Haji diangkat sebagai Engku Kelana yaitu Calon Yang Dipertuan Muda. Sedangkan jabatan Yang Dipertuan Muda Riau III dipercaya pada Daeng Kamboja. 

Dalam kedudukannya sebagai Engku Kelana, Raja Haji banyak membantu menegakkan kekuatan dan kedaulatan kerajaan sahabat seperti Kerajaan Indera Giri, Kedah, Selangor, Jambi, Pontianak, Siak, Pahang, dan Palembang. 

Nah, menarik bukan sejarah yang ada di Pulau Penyengat. Buat teman-teman yang suka menjelajah wisata religi. 

Baca Juga: Sebanyak 1.067 Usulan Penerimaan Calon PPPK Diberikan Rahma Kepada Kemenpan RB

Ayo! Jalan-jalan ke Kota Tanjungpinang, nikmati setiap destinasi wisata yang ada di Kota Tanjungpinang. Ibukota Provinsi Kepri yang memiliki warisan tak ternilai akan sejarah dan peradaban Melayu.***