“Sejak proyek Citywalk dimulai, kendaraan yang parkir turun drastis. Penghasilan saya ikut merosot,” kata Roni, juru parkir di salah satu pusat perbelanjaan.

Keluhan juga datang dari warga yang menilai pembangunan Citywalk kurang tepat di tengah banyaknya jalan kabupaten yang rusak dan belum tersentuh perbaikan.

Aktivis Pemalang, Andi Rustono, bahkan gencar menyuarakan penolakan. Ia menilai kebijakan Bupati Anom tidak memprioritaskan kebutuhan yang lebih mendesak.

“Apakah Citywalk ini kebutuhan yang mendesak? Apakah sudah ada sosialisasi yang jelas kepada para pedagang di Jalan Jenderal Sudirman?” tegas Andi.

Ia juga mengkhawatirkan dampak jangka pendek berupa penurunan omzet yang bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan toko.

“Kalau omzet nyungsep, apa yang akan dilakukan pemilik toko? Merumahkan karyawan atau PHK tanpa pesangon? Apakah Pemkab memikirkan itu?” pungkasnya.

Citywalk merupakan fasilitas publik berupa jalur pedestrian lebar dengan konsep estetika dan kenyamanan.

Di banyak kota besar, citywalk menjadi simbol kemajuan tata ruang, namun biasanya dibangun dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan masyarakat.