Namun, dengan adanya mesin pemanen Kombat yang lebih efisien, pendapatan dari Nyesrek menurun drastis.

Mbah Kuneng (70), seorang buruh tani dari Desa Temuireng, Kecamatan Petarukan, juga merasakan dampak perubahan ini.

“Dulu, saat tidak ada mesin Kombat, saya bisa mendapatkan satu kantong besar gabah, sekitar 20-25 kg. Sekarang, sulit untuk mendapatkan 4 kg gabah saja,” keluhnya.

Meskipun demikian, bagi pemilik sawah, kegiatan Nyesrek dianggap sebagai hal yang lumrah dan tidak merugikan.

Kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi para buruh tani, meskipun hasilnya tidak sebanyak panen utama.

Para buruh tani yang beraktivitas di sawah seluas 5 hektare di Desa Kebagusan menggambarkan Nyesrek sebagai momen berharga.

Sinah (75), yang telah berkecimpung dalam kegiatan ini selama puluhan tahun, menilai Nyesrek sebagai waktu untuk mengumpulkan gabah yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Meskipun sedikit, hasilnya bisa cukup untuk makan sebulan, bahkan bisa dijual,” ujarnya.

Suasana kebersamaan terasa kental di antara mereka. Tidak jarang, Nyesrek juga menjadi ajang untuk saling bertukar cerita dan pengalaman selama bekerja di sawah.