“Ketika sudah terkumpul banyak, saya bisa menjualnya atau mengolahnya menjadi makanan sendiri,” kata Sinah.

Redjo, pemilik sawah, menambahkan, Nyesrek ini adalah cara berbagi kebahagiaan dengan sesama petani.

“Walaupun hasilnya tidak banyak, mereka tetap merasakan hasil dari panen ini,” terang Redjo.

Nyesrek atau Gampung, dengan segala kesederhanaan dan keunikannya, mencerminkan kekayaan budaya Pemalang yang patut dihargai.

Setiap butir padi yang dipungut mengandung cerita tentang kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur dari para buruh tani yang telah lama hidup berdampingan dengan alam.