Kurikulum yang berganti setiap menteri, penilaian yang lebih menekankan angka daripada proses, hingga guru yang dibebani administrasi, membuat pendidikan jauh dari substansi.

Alih-alih menjadi jalan pembebasan, pendidikan justru berubah menjadi bentuk penjajahan baru.

Ketimpangan dan Realitas di Kepulauan Riau

Potret ketidakmerataan pendidikan sangat terasa di Provinsi Kepulauan Riau. Dengan wilayah 96 persen laut dan hanya 4 persen daratan, akses pendidikan masih menjadi tantangan serius.

Di pulau-pulau kecil, banyak sekolah minim fasilitas, kekurangan guru, bahkan sulit dijangkau karena kendala transportasi laut dan cuaca.

Sementara itu, sekolah di Batam atau Tanjungpinang berkembang dengan fasilitas lengkap. Jurang ini menimbulkan paradoks: Kepri yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia dua negara dengan kualitas pendidikan dunia justru masih menyisakan anak-anak yang tertinggal dalam literasi.

Bukankah ini ironi? Negeri yang letaknya berdampingan dengan negara maju, namun anak-anaknya masih berjuang sekadar mendapatkan buku, internet, atau guru.

Menuju Kemerdekaan yang Hakiki

Kemerdekaan sejati adalah ketika anak-anak di pulau-pulau kecil punya kesempatan sama untuk bermimpi seperti anak-anak di kota.

Ketika guru di daerah terpencil mendapat kesejahteraan layak, bukan hanya berstatus kontrak.

Dan ketika pendidikan tidak sekadar soal ijazah, melainkan pembentukan manusia yang utuh cerdas akalnya, kuat kemauannya, dan halus perasaannya.

Refleksi ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak boleh berhenti pada simbol.