Mantan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, juga pernah menegaskan bahwa tugas pendidikan bukan mencetak manusia yang seragam, melainkan memerdekakan manusia agar menemukan jati dirinya.
Hal ini sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai “tuntunan segala kekuatan kodrat anak.”
Sayangnya, sistem pendidikan kita justru kerap membatasi kreativitas, menyeragamkan, bahkan mengekang peserta didik.
Kurikulum yang berganti setiap menteri, penilaian yang lebih menekankan angka daripada proses, hingga guru yang dibebani administrasi, membuat pendidikan jauh dari substansi.
Alih-alih menjadi jalan pembebasan, pendidikan justru berubah menjadi bentuk penjajahan baru.
Ketimpangan dan Realitas di Kepulauan Riau
Potret ketidakmerataan pendidikan sangat terasa di Provinsi Kepulauan Riau. Dengan wilayah 96 persen laut dan hanya 4 persen daratan, akses pendidikan masih menjadi tantangan serius.
Di pulau-pulau kecil, banyak sekolah minim fasilitas, kekurangan guru, bahkan sulit dijangkau karena kendala transportasi laut dan cuaca.

