“Tapi jika nanti redistribusinya atau alokasi aset ini kemudian tidak difokuskan terhadap pembangunan industri manufaktur, atau menciptakan industri yang bertanggung jawab dengan protokol ESG yang ketat, rasa-rasanya kita tidak akan ke mana-mana,” ungkap Galau.

Menurutnya, banyak pihak memiliki ekspektasi besar terhadap Danantara. Namun, berdasarkan pengalaman yang ada, kata Galau, corak pembangunan nasional akhir-akhir ini lebih kepada industri yang tidak jelas rantai pasoknya seperti industri ekstraktif yang cenderung merusak lingkungan dan proyek food estate yang lebih condong mengeksploitasi alam.

“Kalau nantinya investasi itu ke sektor-sektor ekstraktif yang selama ini merusak bentang alam dan topografi, justru ini akan menjadi mesin perusak yang lebih ampuh lagi nantinya untuk men-support aliran industri kotor,” tegasnya.