HARIANMEMOKEPRI.COM – Perayaan Tahun Baru Imlek atau Gong Xi Fa Cai, suasana perairan di sekitar Kecamatan Senayang hingga wilayah pesisir Lingga tampak berbeda dari biasanya.
Warga pulau berbondong-bondong turun ke laut pada malam hari untuk menyuluh dan menangkap ikan dingkis, sebuah tradisi musiman yang hampir menjadi rutinitas tahunan.
Aktivitas tersebut bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Ikan dingkis atau baronang susu mengalami lonjakan harga signifikan menjelang Imlek, seiring meningkatnya permintaan pasar di Batam, Tanjungpinang, hingga Singapura.
Salah seorang nelayan Lingga, Harif, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir antusiasme warga sangat terlihat, khususnya di sekitar perairan belakang Pulau Alut.
“Sudah beberapa hari ini pemandangan laut cukup menarik. Banyak warga menyuluh ikan dingkis. Walaupun hujan turun sejak pagi dan cuaca cukup ekstrem, mereka tetap semangat menyusuri setiap karang untuk mencari rezeki,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Menurut Harif, hasil tangkapan kerap di luar dugaan. Ikan dingkis bahkan bisa masuk ke tangkul kelong dalam jumlah besar saat musim sedang bagus.
“Kalau sedang musim dan beruntung, hasilnya bisa banyak sekali. Bisa dibilang seperti dapat durian runtuh,” tambahnya.
Untuk wilayah Pancur dan sekitarnya, harga ikan dingkis saat ini mencapai Rp150 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
Lonjakan harga ini tak lepas dari meningkatnya konsumsi ikan menjelang Imlek, yang dalam tradisi masyarakat Tionghoa melambangkan kelimpahan dan keberuntungan.

