HARIANMEMOKEPRI.COM – Seorang pemuda bernama Alanuari mengaku menjadi korban pemukulan oleh orang tak dikenal yang diduga oknum anggota TNI AL.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu dini hari, 4 Maret 2026 sekitar pukul 02.00 WIB di wilayah Daik, Kabupaten Lingga.

Informasi tersebut disampaikan Alanuari kepada awak media harianmemokepri.com, Selasa (10/03/26), saat menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya.

Menurut penuturan Alanuari, saat itu dirinya sedang berada di kos seorang temannya yang berlokasi di depan SMA Negeri 1 Lingga.

Alanuari kemudian menerima telepon dari rekannya bernama Fiki yang meminta bantuan untuk menyelesaikan suatu persoalan di daerah Tanjung Buton, Daik.

Dalam percakapan tersebut, Fiki menyampaikan bahwa ada seorang teman perempuannya yang sedang ditahan di lokasi tersebut.

Tanpa menanyakan lebih jauh, Alanuari langsung menuju lokasi dengan maksud untuk membantu.

Setibanya di tempat yang dimaksud, ia melihat seorang perempuan dalam kondisi terbaring di tanah dengan beberapa orang lainnya yang diperkirakan berjumlah sekitar enam orang berada di lokasi tersebut.

“Saya sempat menanyakan apakah ada yang bernama Mutia. Karena melihat kondisinya terbaring di tanah, saya berniat membawanya pulang. Walaupun sebenarnya saya tidak mengenal perempuan tersebut, tapi karena ada informasi dari teman bahwa temannya sedang ditahan, saya berinisiatif membantu,” ujar Alanuari.

Ia mengaku sempat menegur orang-orang yang berada di lokasi karena menurutnya mereka telah mengajak perempuan tersebut mengonsumsi minuman beralkohol serta menahannya tanpa alasan yang jelas.

Namun orang-orang tersebut mengaku hanya membantu mengamankan perempuan itu.

“Salah satu dari mereka bahkan mengatakan kalau mereka tidak punya niat baik, perempuan itu sudah mereka bawa ke hotel,” katanya.

Setelah itu, Alanuari membawa perempuan tersebut untuk diantarkan pulang ke tempat tinggalnya yang diperkirakan berada di sebuah kos di Kampung Budus, Desa Merawang.

Usai mengantar perempuan tersebut, Alanuari kemudian menuju ke tempat teman-temannya yang berada di sekitar Kedai Kopi Balang, Kampung Bugis.

Namun tidak lama berada di lokasi tersebut, tiba-tiba datang dua orang yang mengendarai sepeda motor dan langsung menghampirinya.

Kedua orang tersebut kemudian menarik bajunya dan membawanya ke tengah jalan sebelum melakukan pemukulan.

“Saya dipukul di bagian perut sebelah kanan, kemudian di wajah, kepala, dan beberapa kali di bagian tangan,” ungkapnya.

Menurutnya, saat melakukan pemukulan tersebut, kedua orang itu menuduh dirinya telah berbohong karena sebelumnya ia sempat mengatakan bahwa perempuan yang dibawanya pulang adalah adiknya.

“Padahal saya hanya berniat membantu mengantarkan perempuan itu pulang,” jelasnya.

Tidak hanya Alanuari, beberapa temannya yang berada di lokasi juga ikut menjadi korban pemukulan.

Bahkan salah satu temannya yang datang hanya untuk mengambil gitar miliknya juga ikut dipukul tanpa mengetahui permasalahan yang terjadi.

Adapun lima orang yang menjadi korban pemukulan tersebut di antaranya Alanuari, Riski Maulana, Karnaini, Sukiman, dan Raka Moarelli.

Karena kondisinya yang sudah lemah akibat pemukulan, Alanuari akhirnya memilih meninggalkan lokasi bersama teman-temannya.

Ia mengaku tidak mengenali orang-orang yang melakukan pemukulan tersebut. Namun berdasarkan informasi yang diperolehnya setelah kejadian, para pelaku diduga merupakan oknum anggota TNI yang bertugas di Pelabuhan Tanjung Buton.

Sementara itu, Sabran, orang tua dari Alanuari, mengaku sangat terpukul dan tidak terima atas kejadian yang menimpa anaknya.

Ia menilai tindakan pemukulan tersebut tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

Sebagai orang tua, Sabran berharap aparat penegak hukum maupun institusi terkait dapat menindaklanjuti kejadian tersebut secara serius dan transparan, sehingga keadilan bagi para korban dapat benar-benar ditegakkan.

“Saya sebagai orang tua tentu sangat tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu. Kami hanya masyarakat biasa yang berharap ada keadilan. Siapa pun yang melakukan pemukulan itu harus bertanggung jawab sesuai hukum yang berlaku,” tegas Sabran.

Ia juga meminta agar peristiwa tersebut tidak dibiarkan begitu saja, karena menurutnya tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil dapat menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.

“Kami berharap kejadian ini diproses secara adil dan terbuka. Jangan sampai masyarakat kecil seperti kami merasa tidak mendapatkan perlindungan hukum,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, harianmemokepri.com masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa pemukulan tersebut.