Harian Memo Kepri | Kriminal —Pemuda 23 tahun, Maulana Suryadi, tewas dalam kericuhan kawasan DPR dan MPR Senayan, Jakarta, (25/2019). Ibunya, Maspupah, kaget karena jenazah putranya bengkak dan berdarah.
Wanita 50 tahun ini menceritakan saat mendengar kabar anaknya dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jaktim, Maspupah bersama dua anaknya, Rizki dan Feby, melihat jenazah Yadi bengkak dan melihat darah.
“Setelah itu, naik mobil lagi ke RS Polri, masuk ke kamar lihat Suryadi sudah tergeletak. Awalnya saya nggak kenalin muka anak saya, ‘ini Yadi, Ki?’. ‘Yadi, Bu’ kata Rizki. Jadi kok bengkak begini mukanya. Ya Allah, saya tangis-tangis tuh. Lihat badannya, masih bagus, lihat kupingnya berdarah,” kata Maspupah saat ditemui wartawan di kawasan Kebayoran Lama, Jaksel.
Ia menanyakan kepolisi terkait darah yang keluar dari kuping putranya. “Saya tanya polisi, ‘Kenapa kupingnya berdarah?’ Kata polisi ‘nahan sesaknya’.Polisi nanya mau dimandiin udah bersih atau gimana? Saya bilang mandiin di rumah neneknya saja,” tambahnya.
Diberi Polisi Rp10 Juta
Setelah itu, Maspupah diminta membuat surat pernyataan bahwa pihak keluarga tak bersedia jenazah Yadi diautopsi. Maspupah mengatakan juga diberi amplop oleh polisi senilai Rp10 juta.
“Pas keluar dari ruang jenazah, disuruh bikin surat keterangan, tapi yang nulis anak saya yang perempuan. Intinya meninggal karena gas sama asma. Nah, polisi manggil saya secara diam-diam, masuk ke kamar jenazah lagi, ngasih amplop warna putih di depan jenazah anak saya, isinya Rp 10 juta. Pas dikasihkan, ngomong-nya, ‘Ini pas ngurus-ngurus anak Ibu,’” kata Maspupah.
Dia mengatakan ada polisi yang mengantarnya pulang. Namun polisi tidak mengantar sampai rumahnya. Pihak keluarga sempat menelepon polisi yang memberi kabar atas meninggalnya Yadi.
“Setelah sampai rumah, bibinya sempat ribut melalui telepon dengan polisi namanya Charles yang pertama telepon ngehubungin saya di telepon, ‘Ini kenapa ponakan saya dipukulin begini pada berdarah gini?’ Kalau dia membunuh anak saya, saya tidak terima, kalau anak saya meninggal, saya ikhlas, biar dia tenang. Saya nggak terima anak saya diperlakukan kaya binatang. Karena perginya sehat,” ungkap dia.
Demo Usai Mahgrib
Ia menceritakan sebelum meninggalkan rumah saat kejadian Yadi ikut demo. Maspupah mengatakan putranya pergi dari rumah ketika hari sudah melewati waktu Magrib.
“Dia mandi, habis itu minjem kaus adiknya warna hitam. Terus dia ke bawah lagi sambil bilang, ‘Ah, Yadi mau demo, ah’ sambil ketawa-tawa. Saya tanya ‘demo ke mana lu?’ Dibayar, katanya sambil ketawa-tawa karena orangnya memang suka bercanda dia,” kata Maspupah kepada wartawan saat ditemui rumahnya kawasan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jaksel.
Maspupah kaget ketika ada polisi yang meneleponnya untuk meminta alamat rumah. Saat polisi datang, Maspupah mendengar kabar anak pertamanya itu meninggal. Dia sempat ditanya soal riwayat sakit Yadi.
“Mereka datang kemari ngabari, ‘Ibu sabar ya, Suryadi sudah nggak ada’. Saya tanya kenapa? Mereka balik nanya,’Anak ibu punya penyakit nggak?’ Punya asma dari bapaknya, tapi itu juga kalau lagi kambuh. Tapi nggak sampai parah juga, paling dia kalau lagi merokok kadang dia tarik napas panjang kalau ngerasain sesak,” ujar dia.
Maspupah mengatakan Yadi adalah tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal. Yadi juga sudah memiliki dua anak yang masih kecil. Dia menuntut tanggung jawab atas meninggalnya Yadi.
“Ya kalau anak saya meninggal secara nggak wajar gitu, tanggung jawab dong. Kalau anak saya meninggal, saya ikhlas. Tapi kalau memang dibunuh sama dia, saya nggak terima,” terangnya.
sumber | dok. | poskotanews.com

