Ia menambahkan, pemerintah bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran, relawan, serta para Ketua RT dan RW terus melakukan berbagai upaya pengendalian penyebaran malaria, termasuk menaburkan obat pada sejumlah genangan air atau lanun yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurutnya, di Tanjung Sebauk Darat terdapat 13 lanun bekas tambang bauksit, sementara di Senggarang Besar, Kampung Bebek, dan Tanjung Sebauk Laut masing-masing terdapat satu lanun yang juga menjadi fokus penanganan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB) Kota Tanjungpinang, Rustam, mengungkapkan bahwa kasus malaria di Senggarang pertama kali terdeteksi pada 26 Maret 2026 dan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 518 kasus dari sekitar 800 warga yang diperiksa.
“Wilayah Senggarang merupakan daerah dengan populasi nyamuk penular malaria yang cukup tinggi sehingga penyebarannya sangat cepat dari satu orang ke orang lainnya,” jelas Rustam.

