Ia menegaskan, festival tersebut bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan potensi dan kontribusi nyata bagi daerah asalnya.
Menurutnya, sikap tidak responsif pemerintah mencerminkan kurangnya perhatian terhadap generasi muda.
“Bagaimana pemerintah bisa berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia jika kegiatan positif mahasiswa saja tidak disupport? Ini bukan hanya soal acara, tapi soal penghargaan terhadap inisiatif anak muda Lingga,” tegasnya.
Selain itu, Dimas menilai selama ini Pemkab Lingga kurang membuka ruang dialog dengan mahasiswa.
Berbagai aspirasi yang disampaikan IMKL disebut tidak pernah ditindaklanjuti, meskipun bertujuan untuk kepentingan daerah dan masyarakat Lingga secara luas.
“Mahasiswa Lingga tidak akan berhenti bersuara. Kami hanya ingin didengar, bukan diabaikan. Pemerintah seharusnya hadir dan mendukung ketika generasinya menunjukkan kepedulian terhadap daerah,” tambahnya.
Sejumlah mahasiswa Lingga lainnya di Tanjungpinang juga menyuarakan kekecewaan serupa.

