HARIANMEMOKEPRI.COM — Kota Tanjungpinang merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Riau kini sebentar lagi berusia 240 tahun tepatnya tanggal 6 Januari 2024.
Kota Tanjungpinang terletak pada koordinat 00 50’ 25.93” s/d 00 58’ 54.62” Lintang Utara dan 1040 23’ 23.40” s/d 1040 34’ 49.9” Bujur Timur
Posisi Kota Tanjungpinang sangat strategis, karena berdekatan dengan Kota Batam sebagai salah satu pintu gerbang perdagangan Indonesia dan Kawasan Perdagangan Bebas (free trade zone).
Luas wilayah Kota Tanjungpinang mencapai 258,82 km2, yang terdiri dari 150,86 Km2 daratan dan 107,96 km2 lautan dengan keadaaan geologis sebagian berbukit- bukit dan lembah yang landai sampai ke tepi laut.
Kota Tanjungpinang memiliki 4 Kecamatan dan 18 Kelurahan terdiri dari Kecamatan Tanjungpinang Timur, Bukit Bestari, Tanjungpinang Timur dan Tanjungpinang Barat dengan beragam suku, agama dan budaya.
Kota Tanjungpinang dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2001 yang ditandatangani oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid pada tanggal 21 Juni 2001, dan dicatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 85.
Peresmian Kota Tanjungpinang oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Hari Sabarno, dilaksanakan secara serentak bersama 11 kota lainnya pada tanggal 17 Oktober 2001 di Jakarta.
Tanggal peresmian Kota Tanjungpinang inilah yang dijadikan sebagai momen peringatan ulang tahun Kota Tanjungpinang sebagai kota otonom.
Berdasarkan sejarah dari laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang menjelaskan nama Tanjungpinang sendiri diambil dari posisinya yang menjorok ke laut yang oleh orang Melayu disebut Tanjung.
Tanjung tersebut ditumbuhi oleh pohon Pinang, pohon pinang tersebut kemudian menjadi tanda bagi pelayar yang akan memasuki kawasan sungai Bintan atau Hulu Riau
Dalam masa kerajaan Johor, yang dipimpin Sultan Abdul Jalil, dia perintahkan Laksamana Tun Abdul Jamil untuk membuka bandar (Kota) perdagangan di Pulau Bintan tepatnya di Sungai Carang Hulu Riau.
Dengan dibukanya bandar Perdagangan tersebut sehingga menjadi ramai dan dikenal dengan sebutan Bandar Riau hingga terus berkembang saat masa kepemimpinan Raja Haji Fisabilillah.
Namun pada tahun 1782 sampai 1784 terjadi peperangan dengan sebutan Perang Riau antara kerajaan Riau – Lingga – Johor – Pahang dengan VOC Belanda.
Puncak dari perang Riau ini tanggal 6 Januari 1784, Kerajaan Riau dibawah kepemimpinan Raja Haji Fisabilillah berhasil memukul mundur VOC Belanda dengan ditandai dimusnahkan kapal Komando Belanda. Malaka’s Walfarent di teluk Riau atau daerah tersebut dikenal dengan sebutan “Jangoi” atau Pulau Paku.
Kejadian tersebut mengakibatkan Belanda menarik mundur semua pasukannya dari perairan Riau ke basisnya di Malaka. Kemudian peristiwa 6 Januari tersebut diabadikan sebagai Hari Jadi Tanjungpinang.
Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 mengakhiri pendudukan Belanda di Indonesia, namun Kemerdekaan baru bergema di Tanjungpinang tahun 1948, dan pada tahun 1950 belanda menyerahkan wilayah Kepauluan Riau kepada Pemerintah Indonesia.
Berdasarkan Undang-undang nomor 19 tahun 1957 dibentuk Provinsi Riau beribukota di Tanjungpinang, namun pada tahun 1959 ibukota dipindahkan ke Pekanbaru. Tanjungpinang menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Riau.
Pada tanggal 18 Oktober 1983 Peraturan Pemerintah Nomor 31 tahun 1983 menetapkan Kota Tanjungpinang sebagai Kota Administratif.
Kemudian pada tahun 2001 sesuai dengan Undang Undang-Undang nomor 5 tahun 2001, Kota Administratif Tanjungpinang menjadi Kota Tanjungpinang. Dan saat ini Kota Tanjungpinang menjadi Ibukota Provinsi Kepulauan Riau.

