Memang, secara normatif, hukum telah mengatur perlindungan bagi perempuan. Namun dalam praktiknya, penegakan hukum masih lemah.

Banyak korban memilih bungkam karena takut, malu, atau merasa tak akan didengar. Bahkan ketika berani melapor, mereka kerap tidak mendapatkan keadilan.

Maka dari itu, kita tidak hanya memerlukan regulasi yang kuat, tetapi juga transformasi budaya yang menjunjung tinggi martabat perempuan, serta edukasi sejak dini tentang penghargaan atas tubuh dan hak orang lain.

Pelecehan terhadap perempuan adalah cermin dari kegagalan kita sebagai masyarakat.

Jika ingin menjadi bangsa yang benar-benar beradab, maka penghormatan terhadap perempuan harus menjadi pilar utama.

Ini bukan semata perjuangan perempuan, tapi perjuangan bersama. Sudah waktunya kita berhenti menormalisasi pelecehan dalam bentuk apa pun.

Perubahan dimulai dari kesadaran kolektif: bahwa diam adalah bentuk pembiaran, dan pembiaran adalah bentuk kekerasan.