Wangsit di Petilasan Keramat Sunan Kalijaga
Kemudian cerita lain, tentang banyaknya orang mencari wangsit atau petunjuk di lokasi keramat Petilasan Sunan Kalijaga tersebut.
“Padahal disini (lokasi petilasan) sudah tidak ada batu bata peninggalan Sunan Kalijaga yang utuh. Jika menemukan yang utuh dulu ada yang ngomong mau dibeli berapapun permintaannya,” kata dia.
Mbah Joyo mengungkapkan, lokasi petilasan Sunan Kalijaga itu tidak bisa dianggap sembarangan lantaran peristiwa misterius dari masa ke masa kerap terjadi.
Hal senada disampaikan warga Dukuh Karang Legi, Supardi yang saat itu hendak mencari rumput untuk pakan ternaknya. Dia bilang, blumbang kandang bebek yang dipelihara Sunan Kalijaga juga kental aroma mistis, yang berkaitan dengan peristiwa saat ini.
“Warga sini (Karang Legi) tidak ada yang ternak bebek. Tidak ada yang berhasil beternak unggas itu,” kata dia.
“Sebelum warga ternak bebek, Sunan Kalijaga sudah ternak bebek pada masa lalu,” kata Supardi lagi.
Menurut pemerhati sejarah Blora, Eko Arifianto berdasarkan catatan Sejarah Carita Lasem tahun 1858, Sunan Kalijaga merupakan putra dari Pangeran Santi Badra alias Mpu Tumenggung Wilatikta dengan Putri Sukati anak dari Sunan Bejagung Adipati Tuban (Kabupaten Tuban, Jawa Timur) yang lahir di Lasem pada 1468 Masehi dengan nama Santi Kusuma.
Dia menuturkan, Sunan Kalijaga adalah anak ke-10 dari pasangan Pangeran Santi Badra dengan Putri Sukati, yang mana Pangeran Santi Badra sendiri adalah putra kedua dari Pangeran Badranala Adipati Lasem dan Bi Nang Ti alias Kumudawardhani atau sering disebut Putri Cempa.
“Santi Kusuma alias Raden Mas Said alias Pangeran Lokawijaya alias Sunan Kalijaga,” terang dia.

