Negar dan suaminya tak bisa berhubungan seks malam itu karena mereka bisa mendengar suara napas dan “orang-orang menggeser kursi” di kamar sebelah. Mereka juga harus memamerkan seprai esok paginya.

Saat itu Negar berumur 18 tahun. Sekarang ia berusia 30 dan tinggal di ibukota, Baku.

Apel merah

Ada tradisi melibatkan seprai juga di Armenia, kadang bisa ditemui di Georgia dan beberapa republik di Rusia di kawasan utara Kaukasus.

Versi Armenia, tidak ada “saksi” di kamar sebelah, tapi ada tradisi “apel merah” sebagai ungkapan bagi noda merah di seprai. Tradisi ini banyak ditemui di luar ibukota Yerevan.

“Semakin jauh dari ibukota, semakin sulit tradisi berubah. Di beberapa tempat masih ada fanatisme terhadap tradisi ini,” kata Nina Karapetians, seorang pegiat hak asasi manusia.

Di pedesaan, perempuan menikah di usia 18, dan ketika mereka tak lulus tes “apel merah”, orang tua bisa memungkiri keberadaan mereka.

Menurut Ellada Gorina tradisi ini banyak membuat trauma bertahun-tahun, karena invasi terhadap privasi bisa membuat mereka merasa menjadi korban kekerasan.

Para ahli dari Armenia dan Azerbaijan sepakat tradisi ini perlahan menjadi bagian masa lalu.

“Generasi baru siap untuk melawannya,” kata Nina Karapetians.

Sumber : tribunnews com