Terkadang sebelum pernikahan, calon pengantin perempuan diperiksa oleh “spesialis” yang memastikan keperawanannya.
Tahun lalu Organisasi Kesehatan Dunia, WHO meminta agar praktek ini dihentikan, tapi masih saja dijalankan hingga kini di 20 negara.
“Teror melampaui rasa malu“
Rasa malu, takut dan sakit menghantui Elmira pada malam pengantinnya. Di pagi harinya, “para saksi” masuk ke kamar tidurnya untuk mengambil seprai.
“Saat itu saya tak peduli lagi. Hal itu menjijikkan, tapi teror dari malam sebelumnya melampaui rasa malu saya,” kata Elmira.
Tradisi menjadi semakin mendatangkan trauma bagi perempuan kata psikolog Ellada Gorina.
Di zaman modern, orang menikah di usia lebih lanjut dan punya pengalaman seks sebelum menikah. Peran para saksi ini tak lagi untuk memberi nasehat melainkan untuk memastikan keperawanan si perempuan.
“Hingga kini banyak perempuan menganggap engi itu sesuatu yang normal,” kata Gorina. “Trauma, konflik dan penderitaan terjadi ketika generasi baru rumbuh lebih progresif ketimbang orang tua mereka.”
Negar, yang pernah tinggal di pedesaan Azerbaijan ingat di malam pengantinnya, tak hanya satu atau dua “konsultan”, tapi ia memiliki “seluruh desa” berkumpul di kamar sebelah.
“Saya sangat malu, tapi saya pikir itu normal karena orang tua kan memang lebih tahu daripada kami.”
17 Juni 2019 11:34
Misteri Malam Penganti, Tradisi ‘Menguping’ Hingga Melihat ‘Seprei di Pagi Hari’
Misteri Malam Penganti, Tradisi 'Menguping' Hingga Melihat 'Seprei di Pagi Hari'

