“Yang paling terasa sebenarnya kebersamaannya. Anak-anak senang karena bisa bermain dan berenang bersama teman-temannya, sementara orang tua bisa berkumpul dan bercengkerama. Jadi suasananya memang seperti hari libur bersama,” katanya.
Rahmat berharap tradisi Mandi Safar dapat terus dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga.
“Tradisi ini bukan hanya soal mandi, tetapi juga tentang kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Mudah-mudahan tetap terjaga sampai ke generasi berikutnya,” harapnya.
Hingga kini, Mandi Safar masih menjadi salah satu tradisi yang dinantikan masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Lingga.
Selain menjadi warisan budaya Melayu, tradisi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi, kebersamaan dan rasa syukur.

