Banyak pekerja kantoran di kota besar kerap merasa lelah sepanjang hari, namun mata mereka justru mendadak segar saat jam dinding menunjukkan tengah malam.
Fenomena terbangun pada malam hari ini sebenarnya menandakan bahwa ritme sirkadian atau jam biologis dalam tubuh sedang mengalami kekacauan yang cukup serius.
Tubuh manusia pada dasarnya merespons sinyal cahaya matahari untuk mengatur kapan waktu terbaik untuk beraktivitas secara optimal serta kapan harus istirahat total.
Sayangnya, paparan layar telepon genggam dan lampu LED terang menjelang tidur berhasil mengelabui otak sehingga produksi hormon melatonin menjadi terhambat secara signifikan.
Ketika hormon pengatur tidur tersebut terganggu, sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga tinggi meskipun tubuh fisik sudah sangat membutuhkan istirahat malam.
Gaya hidup urban yang menuntut mobilitas tinggi sering kali memaksa kita mengabaikan alarm alami tubuh demi menyelesaikan pekerjaan atau sekadar menikmati hiburan.
Dampak dari pengabaian sinyal alami ini tidak hanya sebatas rasa kantuk saat rapat pagi, tetapi juga berisiko menurunkan daya tahan tubuh.

