Ketika alarm telepon seluler berdering nyaring pada pukul lima pagi, sebagian besar pekerja kantoran di kota besar refleks menekan tombol tunda sembari meratapi rasa kantuk berat yang masih menggeletar hebat pada area kedua kelopak mata.

Kebiasaan mengangkut sisa kelelahan fisik dari hari sebelumnya telah lama menjadi rutinitas harian yang perlahan mengikis stamina tubuh serta ketajaman konsentrasi pikiran tanpa pernah benar-benar disadari oleh para pelakunya secara jernih.

Banyak orang menyakini pandangan keliru bahwa kekurangan jam istirahat pada hari kerja biasa dapat dibayar tuntas cukup dengan memuaskan dendam tidur seharian penuh saat momen libur akhir pekan telah tiba secara leluasa.

Para pakar neurosains modern justru menemukan fakta medis bahwa mekanisme kompensasi kuantitas istirahat acak semacam itu sama sekali tidak mampu memulihkan kerusakan fungsi kognitif yang sudah terlanjur melanda jaringan otak sepanjang minggu.

Istilah utang tidur melukiskan kondisi akumulatif berbahaya saat tubuh terus-menerus kehilangan hak waktu pemulihan seluler harian yang sangat dibutuhkan guna menjaga performa organ vital manusia agar tetap berfungsi penuh secara optimal.