Sejumlah orang datang ke rumah mereka, meminta agar laporan dicabut. Bahkan, beberapa di antaranya adalah oknum aparat desa dan pejabat setempat.

“Mereka bilang kalau saya tak cabut laporan, suami saya dan anak saya juga akan diproses. Karena suami saya pernah memukul bagian punggung anak saya di depan orang, itu dijadikan alasan. Bahkan ada yang bilang pelaku baru dilantik jadi P3K. Apa karena sudah P3K, bebas memukul anak orang?” kata Novi dengan suara bergetar

Tekanan terus berdatangan, bahkan Novi mengaku mendapat ancaman akan diusir dari rumah, hingga teror terhadap keselamatannya.

“Jangan karena status dan jabatan, pelaku bisa bebas. Anak saya tidak pantas jadi korban kekerasan dan teror hanya karena bersalah. Kenapa yang lain yang ikut mencuri tak disentuh? Apa karena kami pun pendatang di sini?” ujarnya.

Kasus ini menyoroti lemahnya perlindungan terhadap anak di daerah, serta dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh oknum yang justru seharusnya menjadi panutan.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Polres Anambas maupun lembaga perlindungan anak belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan kasus ini.