Perayaan kemerdekaan tahun ini terasa sangat berbeda bagi anak-anak di pesisir utara Jakarta karena mereka tidak hanya berlomba memanjat pinang, melainkan memamerkan karya sains sederhana yang dipelajari secara mandiri selama enam bulan terakhir.
Teras rumah panggung milik seorang nelayan tua kini berubah menjadi pusat aktivitas belajar malam yang menampung puluhan anak sekolah dasar tanpa memungut biaya sepeser pun dari orang tua mereka.
Sebagian besar anak-anak tersebut sebelumnya mengalami kesulitan memahami pelajaran sekolah formal akibat terbatasnya fasilitas teknologi serta kurangnya pendampingan dari orang tua yang harus bekerja hingga larut malam.
Kehadiran para mahasiswa relawan yang secara bergantian datang setiap akhir pekan telah menyuntikkan energi baru ke dalam ekosistem pendidikan lokal yang selama ini terisolasi dari ruang digital modern.
Mereka tidak menggunakan kurikulum kaku seperti di sekolah umum, melainkan mengajak siswa mengeksplorasi potensi lingkungan sekitar melalui pendekatan eksperimen ilmiah yang langsung berkaitan dengan kehidupan nelayan harian.

