Keputusan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang memprioritaskan santri dan penghafal Al-Qur’an dalam rekrutmen Polri tahun ini mendapat sorotan. Menurut Kapolri, para santri dan penghafal Al-Qur’an memiliki keimanan yang kokoh, sehingga dapat menahan godaan saat menjalankan tugas.

HMK, JAKARTA — Peneliti dari Lembaga Institute for Security and Strategic Studies, Bambang Rukminto, mengatakan ukuran religiositas seseorang tidak bisa hanya dilihat dari “luar”. Kenyataannya, kata Bambang, jika melihat kasus-kasus yang terjadi selama ini  banyak mereka yang memiliki latar belakang agamawan terlibat kasus-kasus korupsi. Untuk itu, ia berpendapat apabila Kapolri menyatakan bahwa memprioritaskan santri untuk meningkatkan religiositas personel kepolisian tentu tidak tepat.

Dalam banyak penelitian, ungkap Bambang, tidak ada hubungan secara langsung tingkat religiositas seseorang berdampak pada pada perilaku koruptif di suatu lembaga.

“Pelaku-pelaku korupsi banyak melibatkan para agamawan. Kita lihat kasus-kasus di Kementerian Agama maupun yang lainnya, itu juga menunjukan bahwa mereka yang memiliki latar belakang agama yang kuat, sama saja memiliki perilaku yang koruptif.,” ujarnya kepada VOA.