“Dugaan saya ini salah satu permainan Rusia untuk memastikan bahwa dia punya kartu baru untuk bergerak seandainya pun dari sisi negosiasi dia sama Amerika tidak sesuai dengan harapan. Paling engga dia punya pintu lain, selain lewat BRICS, itu ada Indonesia. Indonesia bisa membuka pintu buat ke Asia, ke ASEAN,” jelasnya.

Rusia dinilai masih tetap membutuhkan mitra strategis jangka panjang.

“Artinya pintu ekonominya bisa mati kalau tidak cari alternatif, makanya dia pergi ke Eurasia, di Asia Tengah terus ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jadi gula-gula saja itu dibilang menjalin kerja sama pertahanan dan keamanan, karena itu tadi kita tidak pernah ada sejarah kedekatan secara militer. Saya kira Rusia tahu bahwa dia tidak akan memproyeksikan Indonesia akan beli banyak senjata, jadi bukan itu, that’s not the point,” pungkasnya. [gi/em]