Ia menjelaskan, persoalan penerangan telah berlangsung sejak mesin genset yang sebelumnya digunakan untuk membantu penerangan warga mengalami kerusakan.
Hingga kini, mesin tersebut tidak lagi beroperasi sehingga masyarakat harus menjalani aktivitas malam hari dengan keterbatasan penerangan.
Kondisi itu turut berdampak terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat. Anak-anak mengalami kendala saat belajar dan mengaji pada malam hari.
Selain itu, aktivitas ibadah, keamanan lingkungan serta kegiatan ekonomi warga juga ikut terpengaruh.
Warga berharap pemerintah desa tidak mengabaikan persoalan tersebut dan segera mengambil langkah konkret.
Mereka menilai penerangan bukan sekadar kebutuhan fasilitas, melainkan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Amirudin menyebut warga akan terus berupaya menyampaikan aspirasi melalui jalur musyawarah dan komunikasi dengan pihak terkait.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai solusi atas persoalan penerangan yang sudah cukup lama mereka hadapi.

